Anda di sini
Beranda > Testimoni > Catatan fakhrianindita.com : Singkat Saja Di Sumba Tengah

Catatan fakhrianindita.com : Singkat Saja Di Sumba Tengah

Anda menyukai berita ini, silakan beri nilai!
Catatan fakhrianindita.com
Tulisan dan Foto Credit By fakhrianindita.com

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru (red: MaTaLaWa) secara letak geografis saya belum mengetahui Taman Nasional ini masuk wilayah bagian Sumba Barat atau Sumba Tengah. Kebanyakan orang berkunjung ke Taman Nasional ini melalui kota Waikabubak, Sumba Barat. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru ini belum lama ditunjuk. Terlihat dari fasilitas yang belum banyak tersedia, jalan yang masih beralaskan tanah dan bebatuan. Perjalanan kami di sini ditemani oleh Gen Hijau yang merupakan suatu komunitas pencinta alam yang bergerak dalam upaya pelestarian lingkungan alam Sumba dengan penanaman pohon. Kami bergerak menggunakan 2 kendaraan menuju TN Manupeu Tanah Daru yang disediakan Gen Hijau. Sepanjang perjalanan menuju Taman Nasional dihiasi dengan savana kering khas Sumba.

Tak lama setelah melewati savana, langit mulai gelap dan suhu udara mulai berubah menjadi sejuk, ternyata pepohonan mulai menutupi sinar matahari masuk, tanda sudah memasuki kawasan taman nasional. Sesekali terdengar suara sahutan burung-burung besar seolah sangat dekat namun tak tampak dengan mata amatiran seperti saya. Kami ditemani seorang pemandu, seorang paruh baya yang merupakan penduduk lokal daerah ini. Ia bercerita bahwa sebaiknya berhati-hati bila kita berjalan di hutan ini, karena banyak kejadian aneh yang menyebabkan kita tidak bisa kembali. Kami mulai melangkah masuk ke dalam hutan, hutan yang cukup gelap untuk pagi hari yang cerah. Pemandu yang saya lupa namanya ini sangat peka dengan suara burung dan dimana burung hinggap. Ia memang sudah berpengalaman dalam mengantar tamu asing untuk melakukan kegiatan “Bird Watching”.

Kami mengalami kesulitan dalam mencari burung, yang kami dengar hanyalah suara sahutan burung-burung dari kejauhan. Ternyata penyebab kami tidak menemukan burung-burung unik khas Sumba adalah, kami datang kesiangan. Disarankan bila anda mau melakukan kegiatan Bird Watching datang setelah subuh dan menginap di dekat lokasi agar mendapatkan burung-burung yang sedang mencari makan. Selain itu bawalah lensa tele dengan range maksimal 200 mm hingga 400 mm agar mendapatkan foto burung yang cukup besar. Tidak masu sia-sia, kamipun berusaha tetap berusaha mencari burung yang ada di hutan ini. Akhirnya pemandu kami memanggil dengan suara pelan. Ia menunjuk ke atas. Awalnya saya mengalami kesulitan titik dimana Ia menunjuk. Tetapi akhirnya terlihat juga, seekor burung sejenis Nuri berwarna merah hinggap di dahan tertinggi pada lokasi itu. Angle pun sulit untuk mengambil gambar burung nuri tersebut. Lensa 200mm saya pun tak mampu mengambil gambar Nuri dengan ukuran besar karena posisi burung sangat tinggi.

Setelah melihat panorama Sumba Tengah dari atas, kami segera meluncur ke air terjun yang menjadi ikon Taman Nasional dengan teriknya matahari siang hari. Saya tidak menghitung berapa lama kami terjemur di atas mobil bak ini selama perjalanan menuju Lapopu, tapi rasanya sekitar 1 jam an kami baru bisa sampai ke area parkiran yang harus melalui turunan curam. Di area parkiran air terjun ini tersedia MCK yang terlihat apa adanya namun masih layak pakai. Air dan suhu di area ini terasa sejuk, mungkin karena banyaknya pepohonan yang rindang menyelimuti kami. Beberapa bangunan yang berada di area ini seperti pondok peristirahatan, pos retribusi masuk kawasan air terjun dan kantor Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro yang memiliki kapasitas energi sebesar 2 x 800 KWH yang akan menyuplai ke PLN. Saya mulai berjalan cepat menuju air terjun ini sebelum ramainya tamu wisatawan yang berkunjung. Trek menuju air terjun ini tak sulit dengan jarak yang menurut saya dekat, mungkin sekitar 10 menit berjalan kita sudah bisa melihat air terjun indah ini.

Gemericik suara air membuat kami ingin berlama-lama di air terjun ini. Namun kami harus meneruskan perjalanan menuju kampung adat yang sangat indah yang berada di atas bukit yang berundak-undak.

Tulisan dikutip seutuhnya bukan tujuan komersial dari sumber: https://fakhrianindita.com/blog-journal/50-singkat-saja-di-sumba-tengah

Tinggalkan Balasan

Top
WhatsApp chat