Anda di sini
Beranda > Berita > TN MaTaLaWa Sebagai Salah Satu Pusat Studi Kawasan Monsoon dan Destinasi Ekoturisme Sumba

TN MaTaLaWa Sebagai Salah Satu Pusat Studi Kawasan Monsoon dan Destinasi Ekoturisme Sumba

Anda menyukai berita ini, silakan beri nilai!

Kepala Badan Litbang dan Inovasi

Waingapu, 28 Februari 2017. Kepala Badan Litbang dan Inovasi beserta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan kunjungan kerja selama 3 (tiga) hari sampai dengan tanggal 28 Februari 2017. Kunjungan dititikberatkan pada kunjungan lapangan di KHDTK Hambala dan Taman Nasional MaTaLaWa (Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti) dengan maksud untuk membangun inisiasi penelitian terpadu dalam rangka pengembangan perhutanan sosial dan perlindungan serta konservasi alam termasuk wisata alam.

Pada saat kunjungan ke KHDTK, Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK, Dr. Henry Bastaman, M.ES menjelaskan bahwa perlunya rencana pengelolaan penelitian dengan desain pengembangan yang mengakomodir karakteristik lokal.

Kunjungan ke Taman Nasional MaTaLaWa dilakukan dalam rangka pengembangan wisata alam, peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan mencoba aktivitas Birdwatching di Langgaliru, blok hutan Padiratana. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim, Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc dalam diskusi kecil mengatakan bahwa ada 4 (empat) hal penting yang bisa dijadikan pijakan bagi pengembangan Balai Taman Nasional MaTaLaWa;
1) Desa-desa sekitar kawasan Taman Nasional MaTaLaWa memiliki karakteristik yang berbeda dengan desa di provinsi lain seperti Jawa dan Sumatera. Oleh karena itu dengan mengeksplorasi lebih jauh tipologi desa sekitar kawasan Taman Nasional MaTaLaWa maka akan diperoleh hal menarik yang bisa dikembangkan untuk pengembangan perhutanan sosial dan konservasi termasuk wisata alam.
2) Keterkaitan antara iklim mikro dan hutan Monsoon di kawasan Taman Nasional MaTaLaWa berpotensi sebagai objek penelitian yang menarik.
3) Keberadaan savana pada lansekap hutan Taman Nasional MaTaLaWa memiliki karakteristik tersendiri dalam membentuk ekosistem hutan Monsoon. Sehingga perlu dikaji lebih jauh apakah keberadaannya memang sudah sedari dulu atau memang karena adanya campur tangan manusia/anthropogenik.
4) Semestinya Taman Nasional MaTaLaWa dapat dijadikan sebagai salah satu sumber “Referensi Wallacea”.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai Taman Nasional MaTaLaWa, Maman Surahman, S.Hut., M.Si menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat sekitar kawasan harus berpedoman pada prinsip “alih profesi, alih komoditi dan alih lokasi”. Dengan menggunakan prinsip tersebut maka dapat dipilah-pilah berbagai bentuk kebijakan dari Balai Taman Nasional MaTaLaWa dalam hal pengembangan bentuk-bentuk Model Desa Konservasi yang bertujuan untuk peningkatan ekonomi masyarakat lokal.

Pertemuan terakhir dengan rombongan Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK adalah melalui kegiatan pembinaan pegawai. Pada kesempatan ini pegawai Taman Nasional MaTaLaWa banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman mengenai jenjang dan pola karir di Kementerian LHK.

Selain itu dibahas pula mengenai salah satu program utama Kementerian LHK dalam memberikan akses seluas 12,7 juta Hektar lahan hutan kepada rakyat serta sejauh mana peran hutan konservasi dalam menyokong kebijakan tersebut. Terakhir Kepala Badan Litbang dan Inovasi berpesan bahwa menurut pengamatan beliau kedepannya Kementerian LHK akan banyak dipimpin oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki kompetisi pengalaman di lapangan, sehingga di dalam mengambil berbagai keputusan dan kebijakan, pejabat tersebut mengetahui betul keadaan dan hal-hal terkait teknis di lapangan.

Sumber: Urusan Promosi dan Informasi MaTaLaWa
Editor: editor@tnmatalawa.com

Tinggalkan Balasan

Top
WhatsApp chat