Anda di sini
Beranda > Press Release! > Wisata ‘Birdwatching’ di Taman Nasional MaTaLaWa Sumba Oleh NGI

Wisata ‘Birdwatching’ di Taman Nasional MaTaLaWa Sumba Oleh NGI

Anda menyukai berita ini, silakan beri nilai!

Wisata ‘Birdwatching’

National Geographic Indonesia (NGI) kembali mencukil informasi dari buku ‘Burung-burung di Taman Nasional Matalawa’. Tulisan yang berjudul Wisata ‘Birdwatching’ di Taman Nasional Matalawa Sumba berada pada alamat website resmi NGI http://nationalgeographic.co.id/berita/2018/01/wisata-birdwatching-di-taman-nasional-matalawa-sumba. Cungkilan tulisan tersebut dapat membantu Taman Nasional MaTaLaWa terkait penyampaian informasi keberadaan serta promosi potensi Taman Nasional MaTaLaWa untuk publik. Mari kita cuplik hasil tulisannya!

Membawa teropong dan kamera, para birdwatcher menikmati tarian dan kicauan burung di alam sambil memotret mereka.

Beberapa lokasi di Taman Nasional MaTaLaWa memiliki kelimpahan burung yang cukup tinggi direkomendasikan untuk aktivitas birdwatching. Tingkat kelimpahan jenis, endemisitas dan akses yang relatif mudah menjadi beberapa kriteria dalam merekomendasikan lokasi pengamatan.

Beberapa lokasi yang memiliki keunggulan untuk melakukan birdwatching di antaranya adalah site pengamatan Billa, Ubukora, Lokuhuma dan Langgaliru.

Selain warga lokal, wisatawan mancanegara juga mengunjungi Taman Nasional Matalawa untuk birdwatching. Tercatat sekitar 37 orang dari 148 wisatawan merupakan birdwatcher dari 12 negara yang secara khusus mengunjungi Langgaliru untuk melihat keindahan ragam burung.

Membawa teropong dan kamera, para birdwatcher ini menikmati tarian dan kicauan burung di alam dan membidik fotonya sebagai buah tangan yang bisa menjadi media untuk berbagi informasi kepada pecinta burung di belahan dunia lainnya.

Lokasi birdwatching Taman Nasional Matalawa merupakan perpaduan antara kawasan hutan tertutup dan padang savana. Karena perbedaan dua tipe ekosistem tersebut akan memudahkan mengamati burung yang sedang terbang maupun bertengger.

Tercatat perjumpaan 49 jenis burung di lokasi pengamatan Billa dengan metode point count. Tingkat perjumpaan tersebut menunjukkan kelimpahan yang cukup tinggi, walaupun dilakukan tanpa menggunakan metode jalur. Faktor pendukung lainnya adalah akses lokasi yang berada tidak jauh dari ibukota kecamatan. Dua kondisi tersebut menjadi alasan habitat Billa direkomendasikan untuk kegiatan pengamatan.

Sementara untuk lokasi pengamatan Ubukora dengan karateristik tutupan lahan berupa perpaduan antara padang dan hutan merupakan ciri khusus tempat keluarnya kakatua sumba (C. sulphurea citrinocristata). Kakatua sumba biasa teramati keluar dari hutan tertutup melintasi padang pada rentang waktu 05.30-06.30 waktu setempat.

Dalam kegiatan-kegiatan monitoring yang dilakukan secara rutin, teramati burung paruh bengkok sering melintas dan bermain di tajuk hutan bagian atas yang berada di sekitar padang savana. Burung-burung tersebut yaitu kakatua-kecil jambul jingga (C. sulphurea citrinocristata), julang sumba (R. everetti), perkici pelangi, nuri bayan (E. roratus), nuri pipi merah (G. geoffroyi), betet kepala paruh besar (T. megalorynchos).

Sedangkan lokasi pengamatan Lokuhuma dan Langgaliru dapat dijadikan alternatif lain untuk kegiatan birdwatching jika mempertimbangkan ketersediaan waktu yang sangat singkat dan akses yang lebih mudah bagi para pengamat.

Untuk meningkatkan potensi wisata, Taman Nasional Matalawa sedang dalam proses melakukan beberapa langkah nyata. Salah satunya kegiatan birding dan lomba fotografi burung.

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2018/01/wisata-birdwatching-di-taman-nasional-matalawa-sumba
Editor: editor@tnmatalawa.com

Tinggalkan Balasan

Top
WhatsApp chat